Para ulama adalah: Pemimpin jama&rsquo;ah yang kita diperintahkan untuk mengikuti mereka dan kita diperingatkan dari memisahkan diri-dari mereka.Dari Abdullah bin Mas&rsquo;ud radhiyallahu &lsquo;anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda:

&nbsp;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: &laquo; لاَيَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ&raquo; [ أخرجه البخاري ومسلم]

&lsquo;Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah Shubhanahu wa ta&rsquo;alla dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah Shubhanahu wa ta&rsquo;alla, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara: &lsquo;Tsayyib (yang pernah menikah) yang berzinah, membunuh orang lain, dan yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jama&rsquo;ah.&rsquo;[1]

&nbsp;
Dari Abu Dzarr radhiyallahu &lsquo;anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: &laquo; مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ&raquo; [ أخرجه أحمد وغيره]
&lsquo;Siapa yang memisahkan diri dari jama&rsquo;ah sekadar satu jengkal maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.&rsquo;[2]

&nbsp;
Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu &lsquo;anhu, ia berkata:

&ldquo;Tetap bersama jama&rsquo;ah dan hindarilah bercerai berai, maka sesungguhnya syetan bersama satu orang, dan ia lebih jauh dari dua orang, dan siapa yang menghendaki aroma surga maka hendaklah ia selalu bersama jama&rsquo;ah. Siapa yang kebaikannya menyenangkan hatinya dan keburukannya menyedihkannya maka itulah seorang mukmin.&rsquo;[3]

Sebagai kesimpulan dari ucapan para ulama tentang makna jama&rsquo;ah ada dua pendapat:
Pendapat pertama: bahwa jama&rsquo;ah adalah jama&rsquo;ah kaum muslimin apabila mereka berkumpul terhadap satu imam secara syar&rsquo;i.

Pendapat kedua: bahwa jama&rsquo;ah adalah manhaj dan thariqah (metode dan jalan) maka siapa yang berada di atas petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam, para sahabatnya dan salafus shaleh maka dia bersama jama&rsquo;ah.

Dan di atas dua pendapat tersebut, maka sesungguhnya pemimpin jama&rsquo;ah ini adalah para ulama. Merekalah yang melaksanakan bai&rsquo;at untuk imam, taat kepadanya mengikuti terhadap ketaatan mereka. Mereka adalah petunjuk di atas manhaj dan thariqah, karena pengetahuan mereka dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta salafus shaleh. Karena itulah, imam al-Ajury memaparkan dalam bab &lsquo;Luzum Jama&rsquo;ah&rsquo; beberapa ayat dan hadits, kemudian ia berkata:

&nbsp;&ldquo;Tanda orang yang Allah Shubhanahu wa ta&rsquo;alla menghendaki kebaikan dengannya adalah menelusuri jalan ini: Kitabullah (al-Qur`an al-Karim) dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam, sunnah para sahabatnya dan orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, serta yang ada pada para pemimpin kaum muslimin di setiap negeri, seperti: Auza&rsquo;i, Sufyan ats-Tsaury, Malik bin Anas, asy-Syafi&rsquo;i, Ahmad bin Hanbal, Qasim bin Sallam rahimahumullah, dan orang yang seperti jalan mereka, serta menjauhi setiap mazhab yang para ulama tersebut tidak berpendapat kepadanya.&rsquo;[4]

Bahkan, tatkala Abdullah bin Mubarak rahimahullah ditanya: Siapakah jama&rsquo;ah yang mesti diikuti? Ia menjawab: &lsquo;Abu Bakar, Umar...ia terus menyebutkan hingga sampai kepada Muhammad bin Tsabit, Husain bin Waqid.&rsquo; Ia ditanya lagi: &lsquo;Mereka telah wafat, siapakah yang masih hidup? Ia menjawab: Abu Hamzah as-Sukkary.&rsquo;[5]

&nbsp;Maka ia menjadikan ulama adalah jama&rsquo;ah yang wajib diikuti.Sesungguhnya tuntutan perkara untuk mengikuti jama&rsquo;ah adalah bahwa seorang mukallaf wajib mengikuti sesuatu yang konsensus para mujtahid, dan mereka itulah yang dimaksudkan al-Bukhari rahimahullah: &lsquo;Dan mereka adalah ahli ilmu.&rsquo;[6]
&nbsp;
&nbsp;
 


[1]HR. Al-Bukhari 9/7, Muslim 3/1302, Ahmad 1/382, Abu Daud 4352, an-Nasa`i 7/90. Semuanya dari hadits Abdullah bin Mas&rsquo;ud radh.


[2]HR. Ahmad dalam Musnad 4/130, 202, 5/344, Abu Daud 4/241 no. 475


[3]HR. Ahmad 1/18, at-Tirmidzi 3/315 no. 2254


[4]Asy-Syari&rsquo;ah 14


[5]Mengutip dari asy-Syathiby: I&rsquo;tisham 1/771


[6]Ibnu Baththal: mengutip dari Ibnu Hajar rahimahullah: Fathul Bari 13/316

